Jumat, 23 November 2012

Fitnah Internet dan Langkah-langkah Menghadapinya


Insya Allah dalam pembahasan ini akan kami paparkan secara ringkas sikap-sikap yang selayaknya dilakukan oleh setiap muslim terhadap media internet ini dengan banyak mengambil faedah dari risalahSyaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd yang berjudul al-Internet Imtihanul Iman wal Akhlaq wal ‘Uqul.

-
FITNAH INTERNET
Internet merupakan sebuah revolusi besar  di dunia IT dan media massa, sebagaimana ia juga sekaligus merupakan medan yang luas untuk menguji keimanan, akhlaq, dan akal manusia. Di dunia internet  kebaikan terbuka luas pintu-pintunya, sebagaimana pintu-pintu kejelekan juga terpapar dengan berbagai gaya.
Di dunia internet seseorang dapat menyuarakan apa saja yang dia inginkan, memuaskan pandangan mata dengan apa saja yang ingin dilihat, menulis apa saja yang dikehendaki, tanpa ada yang menghisab dan mengawalnya, bahkan tanpa ada yang dapat menghentikannya.
Jika seseorang mampu mengendalikan dirinya, menjaga keluhuran jiwanya, melihat akibat setiap perbuatannya, dan selalu merasakan bahwa dirinya selalu diawasi dan terlihat oleh Rabb Sang Maha Pencipta yang Maha Mendengar dan Maha Melihat – maka dia akan selamat.
 
Adapun jika seseorang melepaskan kekang jiwanya, dan mengikuti segala yang diinginkan hawa nafsunya, tanpa ada kawalan keimanan dan ketakwaan – maka hampir-hampir dia telah membenamkan dirinya di dalam jurang kehinaan dan melemparkan dirinya di dalam kubang nista; maka tidak ada setelah itu kecuali penghinaan jiwa, terenggutnya kehormatan, dan kepincangan moral.
-
LANGKAH-LANGKAH MENGHADAPI FITNAH INTERNET
Ada beberapa hal yang boleh membantu seorang muslim di dalam menyelamatkan diri dari fitnah internet dan bahaya-bahayanya, di antaranya adalah:
1. Berhati-hati di dalam bergaul dengan internet
Hendaknya seorang yang berakal tidak terlalu yakin dengan dirinya sehingga menjerumuskan dirinya ke dalam fitnah yang kemudian sulit melepaskan diri darinya.
  • Selayaknya baginya jika hendaknya mengirim mesej atau komentar agar mempertimbangkan sejauh mana akibatnya, hendaknya menjaga diri dari menyakit orang-orang yang beriman dan menyebarkan perbuatan keji di antara mereka. Hendaknya menjauhkan diri dari pembicaraan yang tidak berguna, mempermainkan perasaan, menyebarkan tuduhan-tuduhan, dan mengadu domba di antara manusia.
  • Jika ingin memberikan komentar atau membantah maka hendaknya dengan ilmukeadilan,rahmatadab, dan ungkapan yang sopan.
  • Jika ingin berinteraksi maka hendaknya menggunakan namanya sebenar, adapun jika kuatir dirinya jika menyebut nama sebenar atau ingin menjaga keikhlasannya, maka hendaknya menghindari dari tulisan-tulisan yang buruk dan tidak bermanfaat, dan hendaknya selaluberingat bahwa nanti dia akan berdiri di hadapan Allah Ta’ala untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di hari yang diperlihatkan semua rahasia.
2. Berhati-hati dari langkah-langkah syaitan
  • Hendaknya seorang muslim mewaspadai langkah-langkah syaitan kerana syaitan adalah musuh, selalu mengintai manusia dan mencari jalan untuk menjerumuskannya ke dalam kebinasaan.
Allah telah memperingatkan ini dengan berfirman:
ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين
“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; kerana sesungguhnya syaitan  itu adalah musuh yang nyata bagimu”
(Al-Baqarah [2]: 168).
Seorang yang berakal tidak akan pernah percaya dengan musuh selama-lamanya, tidak melemparkan dirinya ke dalam kubang-kubang fitnah, dan tidak terlalu yakin dengan dirinya betapapun tinggi kecerdasan, agama dan ilmunya. Maka seorang yang berakal akan menjauh dari fitnah, dan tidak membuka diri kepadanya.
  • Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf ‘Alaihis Salaam tidak membawa dirinya ke dalam fitnah, tetapi fitnahlah yang datang kepadanya. Meskipun demikian, beliau tidak yakin dengan keimanan, ilmu, dan keutamaannya, bahkan beliau lari dari fitnah dengan berlindung kepada Allah dari kejelekannya, dan mengakui kelemahan dirinya dengan mengatakan:
قال رب السجن أحب إلي مما يدعونني إليه وإلا تصرف عني كيدهن أصب إليهن وأكن من الجاهلين
Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh“.
(Yusuf [12]: 33)
3. Membatasi masa dan tujuan ketika melayari internet
  • Di antara perkara yang dapat menghindarkan seseorang dari fitnah internet adalah hendaknya membatasi masa berada di alam maya dan memiliki tujuan yang jelas ketika melayarinya.
  • Jika dia tidak membatasimasa dan terus tergiring di dalam membuka-buka file, dan berpindah-pindah dari satu laman ke laman yang lain tanpa tujuan yang jelas, maka akan sia-sialah masanya dan tidak mendapatkan faedah melainkan hanya sedikit.
4. Memikirkan akibat-akibat dari setiap perbuatannya
Di antara perkara yang boleh menyelamatkan diri dari fitnah internet adalah dengan memikirkan akibat-akibat dari setiap perbuatannya, dan hendaknya mengekang jiwanya dengan kekang ketakwaan dan muroqobah.
Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:
بالله عليك يا مرفوع القدربالتقوى لاتبع عزها بذل المعاصبي, وصابر عطش الهوى في هجير المشتهى وان أمض وأرمض
“Demi Allah, wajib atasmu –wahai seorang yang telah dimuliakan dengan ketakwaan- janganlah engkau menjual kemuliaan takwa dengan kehinaan maksiat-maksiat, dan bersabarlah dari dahaga hawa nafsu di dalam panasnya sesuatu yang diinginkan walaupun merasakan sakit dan terbakar.”
(Shaoidul khothir: 1/45)
5. Menjauhi hal-hal yang merangsang nafsu
  • Seorang yang masuk ke dalam internet hendaknya menjauhi hal-hal yang merangsang, menjauhi laman2 porno, dan forum2 yang banyak menyuarakan perkataan-perkataan yang kotor, dan menjauhi pembicaraan2 yang merangsang nafsu dan syahwat.
  • Hendaknya dia menjauhi gambar2 panas (porno, Red.) dan tampilan-tampilan yang merangsanng, kerana jiwa manusia –dengan tabiat yang Allah berikan kepadanya dari kecenderungan mengikuti hawa nafsu- permisalannya seperti bahan ledakan dan segala zat yang mudah terbakar. Zat2 ini jika jauh dari hal-hal yang memicu terbakarnya, maka dia akan tenang dan tidak membahayakan. Adapun jika dipicu dengan hal-hal yang menyalakannya maka akan terbakar dengan segera.
Demikianlah juga jiwa-jiwa manusia, maka ia akan tenang jika jauh dari yang memicunya. Jika ia mendekati hal-hal yang memicunya semisal pandangan2 yang merangsang, maka ia akan menggelora hingga muncul kejelekan2nya dan memuncak hawa nafsunya.
Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata:
لاتتبع النفس الهوى, ودع التعرض للمحن ابليس حي لم يمت, والعين باب للفتن
Janganlah engkau ikutkan jiwa terhadap hawa nafsunya, Dan janganlah engkau paparkan kepada fitnah-fitnah Iblis adalah hidup dan tidak mati, Sedangkan mata adalah pintu terhadap fitnah-fitnah.
(Rosail Ibnu Hazm: 1/274)
6. Menundukkan pandangan
  • Di antara perkara yang menyelamatkan dari fitnah internet adalah menundukkan pandangan, kerana gambar yang jorok (cabul) terkadang muncul di hadapan skrin tanpa disengajakan. Jika dia menundukkan pandangannya maka dia akan membuat ridhio Robbnya, dan melapangkan hatinya. Sebab, sesungguhnya mata adalah cermin hati.
  • Melepaskan pandangan (serampangan) akan membawa kepada kebinasaan, sedangkan menundukkan pandangan akan membawa kepada kelapangan. Jika seorang hamba menundukkan pandangannya maka hatinya akan menundukkan nafsu dan syahwatnya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
(An-Nur [24]: 30)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
فجعل سبحانه غض البصر, وحفظ الفرج هو ازكى للنفس, وبين ان ترك الفواحش من زكا ة نفوس, وزكاةالنفوس تتضمن زوال جميع الشرور من الفواحش, والظلم, والشرك, والكذب, وغيرذالك
“Allah Subhaanahu menjadikan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan adalah lebih menyucikan jiwa. Dan Dia menjelaskan bahwa meninggalkan perbuatan2 keji adalah termasuk kesucian jiwa, dan kesucian jiwa mengandung hilangnya segala kejelekan dari perbuatan2 keji, kezaliman, kesyirikan, kedustaan, dan yang selainnya.”
(Iqomatud Dalil ‘Ala Ibtholit Tahlil: 3/430)
7. Tatsabbut (memeriksa dengan teliti)
  • Di antara hal yang diwajibkan atas seseorang ketika masuk ke dunia internet adalah hendaknyatatsabbut (memeriksa dengan teliti) dari semua yang dia ucapkan, yang dia dengarkan, yang dia baca, dan yang dia nukil. Dengan ini maka diketahui keteguhan akal dan keimanan seseorang.
  • Bagaimana tidak, dunia internet penuh dengan hal-hal yang bercampur-baur antara yang baik dan yang buruk. Telah menulis di dalamnya siapa saja dengan nama-nama samaran yang tidak dikenal!
  • Maka wajib atas seorang yang berakal agar memperhatikan perkara ini. Jika dia mengetahui suatu berita atau suatu perkara maka hendaknya tatsabbut tentangnya. Kalau sudah diketahui tentang kebenarannya maka hendaknya melihat perlu tidaknya dia sebarkan. Jika hal itu akan membawa kepada kebaikan maka hendaknya dikumpulkan dan disebarkan, dan jika tidak membawa kebaikan maka hendaknya dia lipat dan berpaling darinya.
  • Berapa banyak terjadi kejelekan dan fitnah dengan sebab kesembronoan di dalam hal ini. Berapa banyak dari manusia yang mengabaikan akalnya, dan memperlakukan segala sesuatu yang disebarkan di internet sebagaimana sebuah wahyu yang tidak ada kebatilan di depan dan di belakangnya.
Sungguh telah datang larangan yang jelas dari menyampaikan segala sesuatu yang didengar.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
كفى بالمرء كذبا ان يحدث بكل ما سمع
“Cukup seseorang berdusta jika menyampaikan semua yang ia dengar.”
(Shahih Muslim: 1/8).
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم ولولا فضل الله عليكم ورحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah kerana karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).
(an-Nisa 83)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini,
“Ini adalah pengajaran dari Allah kepada para hamba-Nya tentang perbuatan mereka yang tidak selayaknya, dan bahawa selayaknya bagi mereka jika datang kepada mereka suatu perkara dari perkara-perkara yang penting dan maslahat (kepentingan) –maslahat umum dari hal-hal yang berhubungan dengan keamanan, dan kegembiraan seorang mukmin atau berhubungan dengan ketakutan yang di dalamnya terdapat musibah atas mereka- agar mereka bertatsabbut (memeriksa dengan teliti), dan tidak tergesa-gesa menyebarkan berita itu, bahkan hendaknya mengembalikannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, yaitu para pemikir, ahli ilmu, ahli nasehat, orang-orang yang berakal dan memiliki ketenangan, mereka yang mengetahui perkara-perkara dan mengetahui maslahat-maslahat dan mudarat-mudarat.
Jika mereka melihat di dalam penyebaran berita tersebut terdapat maslahat dan mengingatkan kaum mukminin, merupakan kegembiraan bagi mereka dan menjaga dari musuh-musuh mereka –maka mereka menyebarkannya. Dan jika mereka memandang apa yang tidak ada maslahat di dalamnya, atau di dalamnya terdapat maslahat, tetapi mudaratnya melebihi maslahatnya maka mereka tidak menyebarkannya.
Karena itulah Allah berfirman:
“Tentulah orang-orang dari mereka yang ingin mengambil istinbath darinya (akan dapat) mengetahuinya”, yaitu mengambil darinya dengan pikiran mereka dan pendapat-pendapat mereka yang tepat dan ilmu-ilmu mereka yang benar.
Di dalam ayat ini terdapat dalil bagi sebuah kaidah adab, yaitu bahwa jika terjadi pembahasan di dalam suatu perkara maka selayaknya diserahkan kepada orang yang kompeten dalam hal itu, diserahkan kepada ahlinya, dan tidak mndahului di depannya; maka sesungguhnya dia lebih dekat kepada yang benar dan lebih dekat kepada keselamatan dari kesalahan.
Di dalamnya terdapat larangan dari tergesa-gesa dan bersegera menyebarkan perkara-perkara di saat mendengarnya,dan perintah untuk merenungi sebelum berbicara, dan melihat di dalamnya apakah dia merupakan maslahat sehingga seseorang maju kepadanya atau tidak sehingga dia mundur darinya.”
(Taisir al-Karimir Rahman hlm. 190)
8. Berhati-hati di dalam mengemukakan pendapat
Di antara hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berakal adalah hendaknya tidak terlalu bersemangat ketika mengemukakan pendapatnya di dalam sebuah perkara, dan tidak mengucapkan semua yang dia ketahui.
Bahkan seyogyanya ia memperhatikan maslahat-maslahat. Tidaklah baik baginya mengemukakan pendapatnya di dalam semua perkara kecil dan besar, dan tidak wajib atasnya berbicara pada setiap peristiwa kerana kadang dia belum memiliki gambaran perkara sebagaimana mestinya, kadang salah perkiraan dan menyelisihi kebenaran.
Dan orang-orang Arab mengatakan di dalam hal seperti ini:
الخطأ زاد العجول
“Kekeliruan adalah bekal orang yang tergesa-gesa”
(Lihat Bahjatul Majalis wa Unsul Majalis: 1/55)
Adapun jika berhati-hati dan perlahan-lahan maka akan lebih menjernih tabiat, lebih menetapkan pendapat, dan lebih menyelamatkan dari kesalahan. Orang-orang Arab memuji orang yang berhati-hati, tidak tergesa-gesa, dan membolak-balik perkara atas dan bawah dengan mengatakan:
انه لحول قلب
“Sesungguhnya dia adalah pandai mengusahakan dan membolak-balik perkara.”
(Lihat ash-Shihah oleh al-Jauhari: 2/91)
9. Berucap sesuai dengan kadarnya
Hendaknya seorang yang berakal berucap sesuai dengan kadarnya, dan menjauhi mubalaghoh (berlebih-lebihan) dan membesar-besarkan perkara, kerana suatu hakikat akan hilang dengan adanya pengungkapan yang berlebihan dan meremehkan.
Orang-orang Arab mengatakan di dalam pepatah mereka:
خير الناس هذا النمط الاوسط
“Sebaik-baik manusia adalah jenis yang besederhana (pertengahan).”
(Lihat al-Muhkam wal Muhith al-A’zhom: 8/595 dan Kitabul ‘Ain 7/442)
10. Selalu bermuroqobah (merasa diawasi oleh) Allah ‘Azza wa Jalla
Di antara penasihat yang paling agung bagi seorang dan yang menjadikan dia mengambil faidah dari internet dan selamat dari kejelekan-kejelekannya adalah selalu muroqqobah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla dan merasa selalu dilihat oleh-Nya.
وما ابصرت عيناي اجمل من فتى , يخاف مقام الله في الخلوات
Tidaklah kedua mataku melihat sesuatu yang lebih indah, Dari seorang pemuda yang takut kepada Allah dalam keadaan sunyi sepi.
Hendaknya seorang yang berakal selalu mengingat hal ini dengan baik, selalu mengingat bahwa yang ghaib adalah nyata di sisi Allah, maka pantaskah seseorang menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla adalah yang paling tidak bernilai di antara para pemirsa kepadanya?! Maka wajib atasnya agar menyedari bahwa barang siapa yang menyembunyikan sesuatu maka Allah akan memakaikannya kepadanya, dan bahwa barangsiapa yang menyembunyikan sesuatu maka Allah akan menampakkannya, sama saja apakah itu suatu kebaikan atau kejelekan; kerana sesungguhnya balasan sesuai dengan perbuatan dan “barangsiapa yang beramal kejelekan maka akan dibalas dengannya.”
Inilah wasiat-wasiat yang agung dari para imam salaf tentang hal ini:
  • Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata:
 “Tidaklah seorang hamba berbuat baik antara dia dan Allah kecuali Allah akan membaguskan antara dia dan para hamba, dan tidaklah dia berbuat kejelekan antara dia dan Allah kecuali Allah akan menjelekkan antara dia dan para hamba. Sungguh menjadikan senang kepada satu wajah adalah lebih mudah daripada menjadikan senang semua wajah, sesungguhnya jika engkau membuat senang satu wajah tersebut maka seluruh wajah akan condong kepadamu, dan jika engkau merusak antara dirimu dan diri-Nya, maka seluruh wajah akan mengejek-ejek dirimu.”  
(Siyar A’lamin Nubala’: 11/124 dan Tarikhul Islam: 8/442)

  • Mu’tamir bin Sulaiman berkata:
“Sesungguhnya seorang laki-laki melakukan dosa dalam keadaan sembunyi-sembunyi, dan dia memasuki waktu pagi dengan merasakan kehinaannya.”
(ats-Tsiqot: 8/389)
  • Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Sesungguhnya seorang hamba melakukan kemaksiatan terhadap Allah Ta’ala dalam keadaan sunyi dari manusia, maka Allah melemparkan kebencian terhadapnya di hati-hati orang-orang yang beriman dari arah yang tidak dia sangka.”  
(Shoidul Khothir hlm.235)
11. Mengingkari kemungkaran yang ada di internet
Orang yang masuk ke dalam dunia internet hendaknya jangan meremehkan dirinya di dalam mengingkari apa yang dia pandang sebagai suatu kemungkaran atau kejelekan di dalam internet. Dan itu semua sesuai dengan kadar kemampuan dan kekuasaannya.
-
RENUNGAN-RENUNGAN.
Wahai Saudaraku!
  • Tidaklah engkau merasakan –dalam keadaan engkau membolak-balikkan pandanganmu pada gambar-gambar porno- kegelapan di dalam hatimu, kelemahan di dalam tubuhmu, dan suka kehinaan serta tidak butuh kepada kenbaikan?!
  • Tidaklah engkau merasakan –dalam keadaan engkau menelaah cacian-cacian dan mendengarkan apa yang dikatakan pada Fulan dan Fulan- kesatnya hatimu, jeleknya sangkaanmu, dan kesialan di dalam pandanganmu?
  • Tidaklan engkau merasakan –jika engkau menghabiskan waktu berjam-jam di depan internet tanpa faedah- kesempitan dadamu, dan keporak-porandaan dalam urusan harianmu? Hingga engkau tidak sadar dengan seseorang yang berada di sampingmu, dan tidak bersemangat menerima panggilan telepon?
Sebagai kebalikan hal itu semua, tidaklah engkau merasakan semangat, ketenangan, kebahagiaan, dan kekuatan jika engkau manjamukan kebaikan dan engkau tundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, dan engkau bertakwa kepada Allah di saat sendirian?!
-
PENUTUP
Inilah yang dapat kami sampaikan di dalam pembahasan ini dan akhirnya kita memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur agar menjauhkan kita semua dari fitnah-fitnah yang tampak dan yang tidak tampak dan agar menjadikan kita semua sebagai kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup kejelekan serta menjadikan berkah kepada kita semua di mana pun kita berada.
Walhamdulillahi Robbil ‘alamin.
Disusun oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah hafizhahullah
(dengan sedikit alihbahasa)
Sumber:
[Majalah al-Furqon No. 114 edisi II Tahun ke-10 Jumada Akhir 1432 H hlm. 37-42 dengan beberapa penyesuaian dari Admin Syabab Petarukan. Dipublikasikan kembali oleh www.Salafiyunpad.wordpress.com]
Reblog dari, http://akhowatsalafiyyah.wordpress.com/2012/08/17/fitnah-internet-dan-langkah-langkah-menghadapinya/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar