"The idea that an app on an iPad can better teach my
kids to read or to do arithmetic, that's ridiculous,"
“Ide bahwa aplikasi iPad dapat lebih baik
dalam mengajari anak-anak saya membaca dan melakukan aritmatika adalah konyol.”
Kutipan di atas bukanlah terlontar dari
orang sembarangan, tetapi dari seorang Alan Eagle, petinggi Google. Dan sebagai
info tambahan, di era teknologi, digital dan serba komputasi saat ini, petinggi
Google, Apple, Yahoo, dan Hewlett-Packard (HP) justru menyekolahkan anak mereka
di Tech Free School (Sekolah Bebas Komputer).
Ini mungkin justru berkebalikan dengan pola
pikir sebagian orang tua di negara muslim, seperti Indonesia yang kita tempati
ini, yang karena merasa agar anak menguasai IPTEK, menjejali berbagai hal yang
berbau teknologi pada anak sejak usia dini. Padahal, usia dini seharusnya adalah
masa emas untuk membekali pondasi agama, akhlak, dan hafalan Al-Qur’an pada
anak, bukan masa untuk menjejali “urusan dunia”. Dibayangkan saja, andai anak
berumur 17 tahun ia sudah hafal Al-Qur’an, punya kemampuan dasar bahasa Arab,
sudah paham pokok-pokok agama, dan menguasai fiqh, tentu di saat itu ia justru
punya waktu yang sangat luang untuk memulai “menelan” berbagai ilmu alat,
seperti teknologi mutakhir.
Dan mari coba melihat diri kita, yang
kebanyakan mengenal “ngaji” di saat dewasa. Di satu sisi, kita merasa tertuntut
untuk belajar ilmu-ilmu alat (karena tuntutan kondisi atau pekerjaan), di satu
sisi kita menyadari sebagai orang baru kemarin sore mengenal “ngaji” sehingga
tertuntut pula untuk belajar ilmu agama. Bahkan, kita pun – di usia telat mengenal
“ngaji” tersebut – akan merasakan bahwa untuk ilmu-ilmu ushul yang dasar saja (ushul
tauhid, ushul fiqh, ushul hadits) masih sangat kurang, apalagi rincian materi
fiqh (mulai dari fiqh shalat sampai buyu’/jual-beli dan mawaris) banyak di
antara kita “puyeng” di saat menghadiri kajiannya. Dan kalau flashback
ke belakang, niscaya kita akan sepakat bahwa mayoritas waktu yang kita
habiskan
di usia dini terlalu banyak untuk bermain, bukan untuk memupuk dasar
agama, sehingga saat kita dewasa sekarang ini, kita baru merasakan puyengnya belajar agama. Puyeng
karena ada banyak materi agama yang harus kita pelajari, sedangkan
waktu luang kita untuk belajar sudah sempit karena kita sudah terlanjur
banyak memegang tanggung jawab sebagai manusia dewasa.
Nah, jika banyak di antara kita menyadari
masuk dalam kategori “terlambat” mengenal “ngaji” ini, harusnya berpikir dan
berencana agar hal serupa tidak terulang pada anak. Janganlah kita sok
berpendidikan tinggi/sok mengenal teknologi lalu menjejali hal-hal duniawi
tersebut pada mayoritas usia dini mereka.
Tunggu sebentar, mari kita kembali lagi ke Alan Eagle.
Jelas-jelas dia mengerti seluk beluk teknologi. Ia memegang
gelar Ilmu Komputer dari Dartmouth dan bekerja sebagai Communication
Executive di Google Inc, yang di situ ia pernah menulis pidato untuk eksekutif
Google, Eric E Schmidt. Akan tetapi, putrinya bahkan tidak tahu
bagaimana cara menggunakan Google dan itu tidak masalah baginya.
Alan Eagle ini tinggal di Sillicon Valley. Sillicon
Valley adalah daerah selatan dari San Francisco Bay Area, California Amerika
Serikat. Julukan (Sillicon) ini diraih karena daerah ini memiliki banyak
perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer dan semikonduktor.
Daerahnya termasuk San Jose, Santa Clara, Sunnyvale, dan Palo
Alto. Perusahaan-perusahaan yang sekarang menghuni “Lembah Silikon” ini, antara
lain adalah: Adobe Systems, Apple Computer, Cisco Systems, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel,
dan Yahoo!.
Nah, di Sillicon Valley inilah terdapat Waldorf
School of The Peninsula, sekolah yang tidak memiliki komputer
sama sekali. Namun, justru karena itulah petinggi Google, Apple,
Yahoo, dan Hewlett-Packard (HP) menyekolahkan anak mereka di sana.
Pikiran para jagoan IT di Sillicon Valley
ini bahkan berseberangan dengan mainstream sebagian besar sekolah di
Amerika yang berlomba-lomba untuk menjadikan sekolah mereka menjadi sekolah
digital dengan memasukkan pendidikan komputer ke dalam kurikulum dan memasok
komputer dalam jumlah besar. Sekolah Waldorf justru
sebaliknya, yang sebisa mungkin menjauhkan anak-anak dari komputer dan
menekankan pendidikan kepada aktivitas fisik dan belajar secara kreatif.
Alat-alat belajar yang digunakan para siswa adalah pena, kertas, bahkan bisa
menggunakan alat rajut dan lumpur. Sekolah Waldorf mengajarkan anak-anak
kelas lima untuk melakukan keterampilan merajut, membuat kain, sampai membuat
kaus kaki. Anak-anak juga diajari berhitung dengan cara-cara unik, seperti
memotong buah menjadi beberapa bagian dan kegiatan lainnya yang menuntut
kreativitas guru dan siswa.
Pelajaran
penting yang bisa dipetik adalah:
menghilangkan
teknologi pada usia dini bukan berarti menutup akses anak untuk bisa menguasai
teknologi. Pada usia tertentu, anak akan bisa mempelajari teknologi dengan
sendirinya tanpa harus kehilangan kreativitas alamiah mereka di masa
kanak-kanak.
Artinya, jangan khawatir anak akan
ketinggalan IPTEK, jika anak yang masih Anda lihat masih dalam usia dini. Tempatkanlah
rasa khawatir Anda justru jika anak terkena imbas negatif teknologi, seperti
game online, akses pornografi, hedonis, asosial, egois dan sifat sombong pada
rekan-rekan sebayanya dari keluarga kurang mampu yang tidak mendapatkan
fasilitas teknologi. Sebagai muslim, tanamkanlah landasan agama yang benar pada
anak. Tidak salah jika kita meniru way of life-nya salaf, yang di
saat kita baca biografi mereka niscaya kita dapati mereka sudah hafal Al-Qur’an
di usia sekitar sepuluh tahun. Usia dini benar-benar murni untuk pengajaran
Al-Qur’an.
Apakah dengan itu anak akan bosan?
Realitanya, kita dapati para ulama yang sejak kecil mereka dididik dengan sunnah,
mereka justru sangat mencintai pendidikan seperti itu. Mereka pun sangat
menghormati dan berbakti pada orang tua mereka, karena ikatan emosional dengan
orang tua, mereka rasakan sejak kecil. Orang tua benar-benar terjun langsung
menangani, mengawasi, dan membimbing pendidikan anak, sehingga tidak seperti
banyak anak-anak di sebagian lingkungan kita yang ikatan emosionalnya lebih
banyak kepada teman, karena ibu mereka pun ikut-ikutan “berkarier” di luar
rumah.
Di satu sisi, orang tua pun tidak begitu
peduli maksiat yang akan dialami anak, mulai dari masalah gambar makhluk
bernyawa, musik, sampai pergaulan ikhtilath. Dengan alasan “sok berpikir maju”,
mengajari anak-anak game-game gambar makhluk bernyawa, yang banyak di antara
game-game seperti itu selalu ada musik pengiringnya. Membiarkan anak-anak
bergaul dengan lawan jenis sejak usia dini. Saya bahkan pernah membaca risalah
dari Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid yang melarang memasukkan anak ke
sekolah-sekolah ikhtilath, bukan hanya sejak SD, tetapi sejak dari TK.
Kemudian, tanamkanlah pada anak, kebencian
yang besar terhadap gambar-gambar makhluk bernyawa, termasuk kartun-kartun
maupun foto-foto. Jangan karena melihat ada ikhtilaf ulama dalam masalah
fotografi, lalu kita bermudah-mudahan dalam masalah gambar makhluk terhadap
pengajaran anak. Ajarilah soal ikhtilaf ulama ini pada anak, nanti kalau sudah
dewasa. Tanamkan dasarnya dulu, hukum menggambar mahkluk bernyawa itu haram,
dan malaikat tidak akan masuk rumah yang ada gambar-gambar makhluknya.
Kaitannya dengan ini, ada baiknya jika para
pembaca menelaah kitab “Nubdzatun Mukhtasharah”-nya Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah
–hafizhahullah- yang dalam kitab tersebut dijelaskan bagaimana Syaikh Muqbil
bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah mendidik putri-putrinya, termasuk
dalam menanamkan kebencian yang besar terhadap gambar-gambar mahkluk bernyawa
dan musik sejak kecil.
--- Akhirnya, semoga risalah kecil ini
bermanfaat ---
.
Ginanjar Indrajati B
Sumber, sunnihomescooling@yahoogroup.com
Sumber, sunnihomescooling@yahoogroup.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar