Sabtu, 03 November 2012

Jangan Mengenalkan Tehnologi Komputer Pada Anak Usia Dini

"The idea that an app on an iPad can better teach my kids to read or to do arithmetic, that's ridiculous,"

“Ide bahwa aplikasi iPad dapat lebih baik dalam mengajari anak-anak saya membaca dan melakukan aritmatika adalah konyol.”

Kutipan di atas bukanlah terlontar dari orang sembarangan, tetapi dari seorang Alan Eagle, petinggi Google. Dan sebagai info tambahan, di era teknologi, digital dan serba komputasi saat ini, petinggi Google, Apple, Yahoo, dan Hewlett-Packard (HP) justru menyekolahkan anak mereka di Tech Free School (Sekolah Bebas Komputer).

Ini mungkin justru berkebalikan dengan pola pikir sebagian orang tua di negara muslim, seperti Indonesia yang kita tempati ini, yang karena merasa agar anak menguasai IPTEK, menjejali berbagai hal yang berbau teknologi pada anak sejak usia dini. Padahal, usia dini seharusnya adalah masa emas untuk membekali pondasi agama, akhlak, dan hafalan Al-Qur’an pada anak, bukan masa untuk menjejali “urusan dunia”. Dibayangkan saja, andai anak berumur 17 tahun ia sudah hafal Al-Qur’an, punya kemampuan dasar bahasa Arab, sudah paham pokok-pokok agama, dan menguasai fiqh, tentu di saat itu ia justru punya waktu yang sangat luang untuk memulai “menelan” berbagai ilmu alat, seperti teknologi mutakhir.

Dan mari coba melihat diri kita, yang kebanyakan mengenal “ngaji” di saat dewasa. Di satu sisi, kita merasa tertuntut untuk belajar ilmu-ilmu alat (karena tuntutan kondisi atau pekerjaan), di satu sisi kita menyadari sebagai orang baru kemarin sore mengenal “ngaji” sehingga tertuntut pula untuk belajar ilmu agama. Bahkan, kita pun – di usia telat mengenal “ngaji” tersebut – akan merasakan bahwa untuk ilmu-ilmu ushul yang dasar saja (ushul tauhid, ushul fiqh, ushul hadits) masih sangat kurang, apalagi rincian materi fiqh (mulai dari fiqh shalat sampai buyu’/jual-beli dan mawaris) banyak di antara kita “puyeng” di saat menghadiri kajiannya. Dan kalau flashback ke belakang, niscaya kita akan sepakat bahwa mayoritas waktu yang kita habiskan di usia dini terlalu banyak untuk bermain, bukan untuk memupuk dasar agama, sehingga saat kita dewasa sekarang ini, kita baru merasakan puyengnya belajar agama. Puyeng karena ada banyak materi agama yang harus kita pelajari, sedangkan waktu luang kita untuk belajar sudah sempit karena kita sudah terlanjur banyak memegang tanggung jawab sebagai manusia dewasa.

Nah, jika banyak di antara kita menyadari masuk dalam kategori “terlambat” mengenal “ngaji” ini, harusnya berpikir dan berencana agar hal serupa tidak terulang pada anak. Janganlah kita sok berpendidikan tinggi/sok mengenal teknologi lalu menjejali hal-hal duniawi tersebut pada mayoritas usia dini mereka.

Tunggu sebentar, mari kita kembali lagi ke Alan Eagle. Jelas-jelas dia mengerti seluk beluk teknologi.   Ia memegang gelar Ilmu Komputer dari Dartmouth dan bekerja sebagai Communication Executive di Google Inc, yang di situ  ia pernah menulis pidato untuk eksekutif Google, Eric E Schmidt. Akan tetapi, putrinya bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakan Google dan itu tidak masalah baginya.

Alan Eagle ini tinggal di Sillicon Valley. Sillicon Valley adalah daerah selatan dari San Francisco Bay Area, California Amerika Serikat. Julukan (Sillicon) ini diraih karena daerah ini memiliki banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer dan semikonduktor. Daerahnya termasuk San Jose, Santa Clara, Sunnyvale, dan Palo Alto. Perusahaan-perusahaan yang sekarang menghuni “Lembah Silikon” ini, antara lain adalah: Adobe Systems, Apple Computer, Cisco Systems, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel, dan Yahoo!.

Nah, di Sillicon Valley inilah terdapat Waldorf School of The Peninsula, sekolah yang tidak memiliki komputer sama sekali. Namun, justru karena itulah petinggi Google, Apple, Yahoo, dan Hewlett-Packard (HP) menyekolahkan anak mereka di sana.

Pikiran para jagoan IT di Sillicon Valley ini bahkan berseberangan dengan mainstream sebagian besar sekolah di Amerika yang berlomba-lomba untuk menjadikan sekolah mereka menjadi sekolah digital dengan memasukkan pendidikan komputer ke dalam kurikulum dan memasok komputer dalam jumlah besar. Sekolah Waldorf justru sebaliknya, yang sebisa mungkin menjauhkan anak-anak dari komputer dan menekankan pendidikan kepada aktivitas fisik dan belajar secara kreatif. Alat-alat belajar yang digunakan para siswa adalah pena, kertas, bahkan bisa menggunakan alat rajut dan lumpur. Sekolah Waldorf mengajarkan anak-anak kelas lima untuk melakukan keterampilan merajut, membuat kain, sampai membuat kaus kaki. Anak-anak juga diajari berhitung dengan cara-cara unik, seperti memotong buah menjadi beberapa bagian dan kegiatan lainnya yang menuntut kreativitas guru dan siswa.

Pelajaran penting yang bisa dipetik adalah:
menghilangkan teknologi pada usia dini bukan berarti menutup akses anak untuk bisa menguasai teknologi. Pada usia tertentu, anak akan bisa mempelajari teknologi dengan sendirinya tanpa harus kehilangan kreativitas alamiah mereka di masa kanak-kanak.
 
Artinya, jangan khawatir anak akan ketinggalan IPTEK, jika anak yang masih Anda lihat masih dalam usia dini. Tempatkanlah rasa khawatir Anda justru jika anak terkena imbas negatif teknologi, seperti game online, akses pornografi, hedonis, asosial, egois dan sifat sombong pada rekan-rekan sebayanya dari keluarga kurang mampu yang tidak mendapatkan fasilitas teknologi. Sebagai muslim, tanamkanlah landasan agama yang benar pada anak. Tidak salah jika kita meniru way of life-nya salaf, yang di saat kita baca biografi mereka niscaya kita dapati mereka sudah hafal Al-Qur’an di usia sekitar sepuluh tahun. Usia dini benar-benar murni untuk pengajaran Al-Qur’an.

Apakah dengan itu anak akan bosan? Realitanya, kita dapati para ulama yang sejak kecil mereka dididik dengan sunnah, mereka justru sangat mencintai pendidikan seperti itu. Mereka pun sangat menghormati dan berbakti pada orang tua mereka, karena ikatan emosional dengan orang tua, mereka rasakan sejak kecil. Orang tua benar-benar terjun langsung menangani, mengawasi, dan membimbing pendidikan anak, sehingga tidak seperti banyak anak-anak di sebagian lingkungan kita yang ikatan emosionalnya lebih banyak kepada teman, karena ibu mereka pun ikut-ikutan “berkarier” di luar rumah.

Di satu sisi, orang tua pun tidak begitu peduli maksiat yang akan dialami anak, mulai dari masalah gambar makhluk bernyawa, musik, sampai pergaulan ikhtilath. Dengan alasan “sok berpikir maju”, mengajari anak-anak game-game gambar makhluk bernyawa, yang banyak di antara game-game seperti itu selalu ada musik pengiringnya. Membiarkan anak-anak bergaul dengan lawan jenis sejak usia dini. Saya bahkan pernah membaca risalah dari Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid yang melarang memasukkan anak ke sekolah-sekolah ikhtilath, bukan hanya sejak SD, tetapi sejak dari TK.

Kemudian, tanamkanlah pada anak, kebencian yang besar terhadap gambar-gambar makhluk bernyawa, termasuk kartun-kartun maupun foto-foto. Jangan karena melihat ada ikhtilaf ulama dalam masalah fotografi, lalu kita bermudah-mudahan dalam masalah gambar makhluk terhadap pengajaran anak. Ajarilah soal ikhtilaf ulama ini pada anak, nanti kalau sudah dewasa. Tanamkan dasarnya dulu, hukum menggambar mahkluk bernyawa itu haram, dan malaikat tidak akan masuk rumah yang ada gambar-gambar makhluknya.

Kaitannya dengan ini, ada baiknya jika para pembaca menelaah kitab “Nubdzatun Mukhtasharah”-nya Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah –hafizhahullah- yang dalam kitab tersebut dijelaskan bagaimana Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah mendidik putri-putrinya, termasuk dalam menanamkan kebencian yang besar terhadap gambar-gambar mahkluk bernyawa dan musik sejak kecil. 
 
--- Akhirnya, semoga risalah kecil ini bermanfaat ---
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar